Fantasi Cerpen ini terbatas untuk anggota Group 0 is not zero
Disuatu masa, dikala lembaran sejarah tak cukup abadi untuk bertahan, dimana manusia belum menjadi satu-satunya penguasa dunia.
Saat dimana ras maupun etnis adalah sebuah perbedaan yang insignifikan untuk dipertentangkan.
Namun juga masa dimana nilai-nilai awal manusia dan kemanusiaan terbentuk. Masa dimana kebijakan adalah sesuatu yang mahal.
Yeah, masa dimana keadilan terasa begitu mahal. Dan nyawa serta kedamaian, adalah barter yang tak seimbang.
Dan hari itu, saat ufuk nyaris terbit, putera Adam bernama Shiloh menempuh jalan setapak sunyi yang berujung pada sungai kecil. Bahwa di sungai itu akan ada kejadian yang merubah alam dan penduduknya, ia belum mengetahuinya.
Beberapa peri alam berwujud gadis mungil bersayap menyapanya dengan riang, "Shiloh... shiloh... kau datang untuk bermain dengan kami, pagi ini ? .. Shiloh... Shiloh.." Kepak sayapnya yang laksana denting lonceng berbunyi lembut bersama senyum Shiloh.
"Artemia, Lhaksata, Yueh Ying... terimakasih telah menemai pagiku. Aku akan kesungai Varia mengambil air, dan mencuci pedang suci Draconian milik ayahku, Adam Van Hallen..".
"Shiloh... kami temani kau Shiloh.... Shiloh sang sahabat Gaia..." sahut ketiga riang. Kepak sayap laksana denting lonceng berterbangan riang di sekeliling Shiloh.
Dengan riang, dan ditemani para peri alam sahabatnya, Shiloh berlarian menuju tepian sungai Varia, melintasi Hutan Sinomori. Celananya mulai basah oleh tetesan embun dan keringat.
Sejuknya pagi membuat Shiloh dan ketiga peri alam itu tidak awas bahwa ada tiga buah mata yang mengawasi perjalanan mereka sejak tadi.
Tiga pasang mata, dengan tepian merah dan hitam, menatap tajam kearah Shiloh. Tanpa suara, tanpa bicara, berkelebat serempak, menuju kearah Shiloh.
Dalam dua kali kepakan sayap elang, pemilik tiga pasang mata itu telah berkelabat menghadang Shiloh. Ketiganya menghunus senjata, sebuah pedang panjang berujung trisula, yang merupakan senjata khas kerajaan Sorvenia.
Suara gaduh membuat peri-peri panik, meninggalkan Shiloh sendirian di depan seorang penjahat Sorvenia yang menghunus trisula keperakan.
Dua orang Sorvenia lainnya mengepung Shiloh dari samping dan belakang. ".. kau... melanggar... wilayah kami ... Sungai Varia kini... berada dalam.. kekuasaan... yang ..mulia Raja Sorvenia, Rijkaard Sorvenia.".
"Sejak kapan...? ...sejak kapan .. Sorvenia menginvasi wilayah sekutunya,.. negeri kami.. Arkania ? Sejak kapan penjahat menjadi ksatria Sorvenia.." dengan pucat dan ketakutan Shiloh mundur teratur.
Dibalik topeng perang pelindung wajah ketiga orang Sorvenia tersebut, Shiloh merasakan sorotan mata yang mengerikan. Sorot mata seorang prajurit buas dari Sorvenia.
"Hail ... Rijkaard... Raja Sorvenia...." seru ketiganya serempak.
Dan dalam hitungan satu kepakan sayap elang kemudian, ketiganya telah bersama-sama menyerang Shiloh.
Trang.... Trang.... Trang....
Bunga api memercik di udara. Sekelebat cahaya berwarana perak menahan laju ketiga pedang trisula tersebut. Dan sesosok pria berusia tigapuluh lima tahunan berdiri gagah menghadang ketiga ksatria Sorvenia.
Siluet mentari pagi yang bersinar terang, menutupi wajahnya yang bertahtakan sebuah luka goresang pedang yang memanjang disepanjang pipi kirinya hingga ke bawah. Dan wajah itu memancarkan wibawa yang kuat.
"Adam... van Hallen..." tukas salah seorang Sorvenia itu dengan terkejut. ".. mantan ksatria tertinggi Arkania..".
"Ayah...." sambut Shiloh sambil tersenyum gembira. Hilang sudah guratan kecemasan yang tadi bersimaharajalela di wajahnya. Laksana fajar terbit, airmukanya ceria kembali.
Adam, sang penyelemat itu, tersenyum pada ketiga Sorvenia yang menyerang. Tangannya menjura dengan menangkupkan pedang kebawah, sebuah sikap permohonan maaf, ala ksatria negeri Arkania.
"Sudilah kiranya memaafkan kecerobohan putra bodohku, Shiloh.. kami orang awam biasa, tak paham peta politik dan militer lagi. Kami tak tahu bila perbatasan telah berubah. Kumohon, sudilah memaafkan kami..".
"Ayah.." sahut Shiloh terkejut melihat sikap ayahnya. Dengan tak berpikir panjang, diapun langsung meniru perbuatan Adam, sang ayah. "Kumohon, ampuni saya yang telah ceroboh ini..".
Ketiga Sorvenia tersebut saling berpandangan, seolah mencari kata sepakat atas permintaan Adam dan Shiloh. Hingga tak lama, seorang yang sedari tadi bersikap layaknya pimpinan berkata "..perintah yang mulia adalah Mutlak.. Hail Rijkaard..!!".
Adam berdecak kesal melihat jawaban tersebut, dengan sedikit gusar dia tersenyum dan berkata, "..tsk.... kalian tak memberiku pilihan lain.. Sangat diprihatinkan, Sorvenia sudi merekrut kaum penjahat menjadi ksatria ...".
Tanpa memperdulikan kegusaran Adam, ketiganya menghunuskan pedang kelangit. Sepasang mata mereka meradang dan menyala, sementara gumaman tak jelas berkumandang dari balik topeng perang pelindung mereka.
.."La malvagità scura maledetta, gli brucia ogni odio..".
Sebentuk petir berwarna hitam gelap menggelegar keluar dari langit. Dalam sekejap menyambar kebawah dan segera bersarang di ujung spada triplice, pedang trisula mereka. Sedetik kemudian, petir hitam pekat itu telah berkelabat menyerang Adam.
"Hey... serangan itu berbahaya sekali.." tukas Adam sambil bergerak melindungi Shiloh. Tangan kirinya diulurkan kedepan dengan telapak terbuka, sementara tangan satunya diletakkan didepan dada kirinya. Dengan penuh konsentrasi, Adam berguman,
"..tsk..kalian sama sekali tak memberiku pilihan lain... 처녀 전사의 방패....!!!".
Dalam hitungan dua kepakan sayap elang berikutnya, sebuah tirai putih bersinar keperakan keluar dari dasar Bumi. Melingkupi Adam dan Shiloh, memberikan perlindungan kepada keduanya, sekaligus menetralisir sambaran petir hitam yang datang menyerang.
Bzzzttt..... !!!
Dziiiing...!! Dziiing...!! Buummm !!!
Ketiga Sorvenia itu terperangah, saling pandang dalam keterkejutan. Sama sekali tak menyangka, bila serangan tersebut dapat dengan mudah dinetralisir oleh Adam. Untuk sesaat, kelengahan menguasai mereka.
Tanpa ragu, Adam segera berkelebat maju. Dan dalam satu kali kepakan sayap elang, Adam telah masuk kedalam jarak serangan efektif. Hingga tanpa ampun, kepalan tangan dan kaki Adam menghajar titik-titik vital mereka.
Wuut...!!!
Bug..! Buug... ! Bugh...!! "Ahhh...".
Ketiganya langsung tumbang ke Bumi. Dan pingsan.
"Aah.. rasanya aku sedikit berlebihan, bukan begitu Shiloh, anakku ?" komentar Adam sambil menoleh kepada Shiloh.
Shiloh yang belum pulih dari rasa terkejutnya hanya bisa menggeleng spontan. Kali ini dia diliputi perasaan takjub.
Dan tiga peri alam yang tadi bersembunyi ketakutanpun kini telah berani keluar. Mereka mengelilingi Adam, mengucapkan rasa terimakasihnya, "....Adam... Adam sang pelindung Varia dan Sinomori... terimakasih Adam... Adam..".
Dengan riang, mereka bertiga berkitaran disekitar Adam. Kepak sayapnya yang laksana denting lonceng berbunyi lembut kembali.
"..Adam.. Adam.. sang pelindung Varia... apa yang akan kau lakukan ... pada para ksatria Sorvenia ini... Adam... Adam... ?" tanya Artemia, Peri alam bergaun merah yang menebarkan semerbak harum mawar Serin, sambil berkeliling diseputar wajah Adam.
"Hmm.. apa yang harus kulakukan, wahai Artemia yang jelita ?" tanya Adam balik bertanya.
"..Adam.. Adam.. sang pelindung Sinomori... setiap insan di Gaia... pada dasarnya adalah bayi suci... seperti pada saat mereka datang ke Gaia ini..." kali ini Lhaksata, peri alam bergaun hijau dengan semerbak wangi cemaranya, angkat bicara.
".. Adam.. Adam.. wahai ksatria Arkania... berikan mereka ... kesempatan kedua... wahai Adam... Adam.." lanjut Lhaksata kembali. Kali ini dia berhenti terbang berputar-putar disekeliling Adam. Dengan wajah tanpa dosanya, Lhaksata memohon pada Adam.
Adam tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia menoleh pada Yueh Ying, yang sedari tadi terbang melayang dengan malu-malu di sisi kanan Adam, berharap memperoleh tegur sapa lemah-lembut darinya.
"Duhai Yueh Ying, sang peri bunga tulip, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan ?" pinta Adam sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Yueh Ying.
Pipi mungil Yueh Ying, peri alam bergaun emas itu bersemu merah. Dengan riang dia menjawab, "..Adam.. Adam.. terimakasih .. telah meminta bantuanku.." Semerbak wangi bunga tulip menebar dari tubuh mungilnya, kala Yueh Ying berucap.
Dengan riang, Yueh Ying melayang lembut ke arah raga ketiga prajurit Sorvenia yang tengah pingsan terbaring ditanah. Denting lonceng yang lembut terdengar samar-samar seiring gerakan sayap Yueh Ying.
"..Adam... Adam.. seperti yang kau pinta.. akan kukembalikan jiwa.. dan pikiran mereka... sesuci seperti saat.... mereka tiba di Gaia ini... seputih saat ibu mereka... melahirkan mereka ..." ucap Yueh Ying.
Dengan anggun, kedua lengan mungil Yueh Ying mengembang kearah mereka. Gaun dan mahkota emasnya berkiauan sejenak.
"Wahai... putra-putra Sorvenia... kembalilah pada kesucian kalian...layaknya bayi yang suci.... 失去的靈魂的洗淨...!!!!!".
Gaun dan mahkota mungil Yueh Ying berkilauan keemasan sejenak. Tiga buah cahaya turun kedalam raga para ksatria Sorvenia yang pingsan itu, laksana curahan air mancur. Membasuh ketiganya dan menebarkan harum wangi bunga lili.
Adam tersenyum pada ketiga peri itu. "Wahai para peri alam penjaga Varia, terimakasih atas semuanya. Rasanya semua permasalahan telah terjawab. Kami pamit dulu.." Adam mohon pamit. "Mari Shiloh.. kita pulang.." katanya sambil merangkul putranya.
"Adam... Shiloh... terimakasih banyak... kami haturkan..." sahut ketiga peri alam tersebut dengan riang. Lambaian tangan mereka pada Adam dan Shiloh, mengakhiri pertemuan mereka di tepi sungai Varia pagi itu.
"Sampai nanti... Adam.... Shiloh... esok kala mentari... terbit kembali.. tengoklah kami disini..".
"Haai... iya semua.. kami pamit dulu, Artemia, Lhaksata,.. Yueh Ying...".
***
Pondok Kecil Tempat tinggal Adam dan Shiloh, di tepi hutan Serin dan Sinomori, wilayah Arkania Timur.
Malam yang tenang baru saja turun, ketika halimun tipis nan lembut melayang perlahan di perbatasan hutan Serin dan Sinomori. Udara dingin yang sejuk membelai wajah Shiloh, menina-bobo-kan nya dalam lindungan selimut tua milik Adam.
Adam tersenyum bahagia melihat wajah tenang Shiloh, yang damai dipeluk mimpinya. "..Shiloh.. anakku seorang.. tidurlah dalam pelukan malam..." doanya sambil membenahi selimut milik Shiloh. "..gapailah mentari pagimu, nak.. segera...".
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di depan pintu pondok. "Tok..tok..".
"Salam sejahtera bagimu wahai pemilik pondok... Ijinkan pengelana tersesat ini bermalam disini..." seseorang berkata didepan pintu.
Suara wanita ? Siapa dia, yang mengaku pengelana dan ingin bermalam disini ? Benak Adam penuh pertanyaan. Tak ayal, dirinya bangkit memenuhi panggilan sang tamu. Pantang baginya menolak permintaan tolong orang lain. Apalagi sekedar menginap.
"Salam sejahtera bagimu juga, wahai sang pemberani. Adakah kiranya yang dapat hamba bantu ?" sahut Adam sambil membuka pintu.
Penerangan temaram pondok dan terangnya rembulan malam, memberikan cahaya yang cukup bagi Adam untuk melihat tamu yang datang.
Sesosok wanita berambut pirang dan panjang, dengan mata biru sebening air laut dan wajah tulus yang menyiratkan keberanian serta ketulusan terpampang di depan pintu. Dia mengenakan seragam perwira tinggi Arkania.
Pedang dan perisainya berukirkan lambang naga dan harimau dengan latar belakang putih. Seragam perwiranya yang dikenakannya juga didominasi oleh warna putih, menandakan sang pemilik adalah perwira tinggi dari kesatuan khusus Arkania.
Wajah nan lembut itu,.. terasa begitu familiar bagi Adam. Entah siapa gerangan dia ... otak Adam bekerja keras. Mencoba menerka-nerka.
"Mari silahkan masuk, wahai sang pemberani. Maafkan, hanya keramahan orang desa dan pondok jelek ini saja yang hamba bisa haturkan..." Adam mempersilahkan tamunya masuk.
Terangnya perapian di dalam pondok, memberikan ruang cahaya yang lebih luas untuk memandang dengan jelas. Dan, ketika itu pula, baik sang tamu maupun Adam saling terkejut.
"Kau....?".
"Adam sunbei*... ????" sahut sang tamu sambil terpekik terkejut. Matanya membeliak memandang sekujur wajah Adam yang dihiasi luka memanjang.
"Kau... kau ....Hae-Young hubei*?..." Adam tak kalah terkejutnya.
Sontak, sikap anggun dan berwibawa seorang perwira tinggi Arkania yang sedari tadi dipasangnya, berubah menjadi keceriaan seorang adik bertemu kakaknya. "Huaa... Adam sunbei..!! Lama tak jumpa...????".
"Ahh.. silahkan duduk. Hae-Young hubei." Adam tak kalah girangnya."Mau minum apa ? Wah.. kau pastinya lapar juga ya ? Hmm.. aku ada sedikit ddukbokki*, kau mau ?" Adam memberondong Hae-young. "Delapan tahun tak jumpa ya, Hae-young hubei".
Hae-young tertawa.
"Sembilan tahun, Adam sunbei.. terakhir saat kau mengundurkan diri dari Arkania...".
"Aah, iya. kau benar Hae-young hubei, sudah sembilan tahun berlalu. Bagaimana khabar Arkania sekarang ?".
Hae-young menggeleng sambil tersenyum.
"Ara... ada apakah gerangan, Hae-young hubei ?".
Dengan menghembuskan nafas berat, Hae-young bercerita. "Arkania telah jatuh ketangan Sorvenia. Intrik kekuasaan diantara keluarga sang Ratu telah melemahkan Arkania hingga ketitik yang paling parah. Dan Sorvenia datang disaat yang tepat..".
"..bahkan sekarang, Königlicher weißer Palast*, istana dan pusat pemerintahan Arkania telah ditaklukan Sorvenia. Untungnya, Ratu Rania saat ini berhasil diselamatkan oleh Herman Krueger kesuatu tempat rahasia.." lanjut Hae-young.
"..sedangkan aku sendiri, misiku adalah membangun kembali kekuatan militer Arkania, dan mengambil alih Rasendria, ibukota Arkania." tegas Hae-young.
"..sungguh kehendak langitlah, aku bisa bertemu dengan Adam sunbei secara tak sengaja. Tentunya kau takkan menolak membantuku, bukankah begitu, Adam sunbei ?" tanya Hae-young sambil tersenyum setengah memaksa.
"Arkania... ditaklukan Sorvenia ?" ulang Adam dengan terkejut. "Sampai sejauh itu...?".
Hae-young tertawa. Dia mengangguk.
"Ironis, bukan ?".
"Tapi kenapa ?".
"Perluasan wilayah, sumberdaya alam Arkania nan melimpah, tambang emas, perak dan ladang-ladang pertanian. Sorvenia tak tahan untuk tak memilikinya, apalagi saat diperintah oleh Rijkaard. Sulung dari mendiang Ratu Vexia yang budiman..".
Adam menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perasaan bingung.
"Jadi.. apa rencanamu ? Apa yang bisa kubantu Hae-young hubei...?".
"Mengumpulkan tiga ksatria Arkania, Schneizel sang ahli senjata api, Averoes sang Mage dan ahli strategi.. serta kau, Adam sunbei untuk membangun perlawanan terhadap Sorvernia...!" tukas Hae-young mantap.
"..dan terakhir, menemukan simbol Naga Arkania, simbol pemersatu negeri Arkania ini..".
Adam van Hallen, mantan ksatria terkuat dari Arkania itu hanya tersenyum. "Ya..." jawabnya singkat.
Hae-young tersenyum tulus. "Terima kasih, Adam sunbei.." jawabnya pelan.
Tarian api perapian menemani percakapan tanpa suara mereka. Reuni kecil antara dua orang saudara seperguruan yang telah berpisah lama. Dan keduanya menikmati masa-masa nostalgia kali ini. Masa dimana dulu mereka masih belajar bersama.
"Tapi... Adam sunbei.. ijinkan aku bertanya...".
Adam hanya mengangkat mukanya dengan tersenyum, tanda persetujuannya.
"Siapa bocah lelaki yang tidur sambil memeluk pedang Draconian itu ?" tunjuk Hae-young kepada Shiloh.
"Dia ?".
"Iya..".
"oo.. itu.. Shiloh.. putraku..".
"Heeeeeeeeee......??????" terkejut luar biasa Hae-young mendengarnya.
"..Adam sunbei, kau ter-la-lu....".
Adam kebingungan melihat reaksi Hae-young, adik kelasnya semasa masih berguru pada Kim-Sungsaenim* dulu.
"He? Ada apa ?" tanyanya polos.
Tiba-tiba, Hae-young mencengkeram kerah leher Adam. Ia menatap wajah Adam dengan serius.
".. serius aja, sunbei-nim kau tak pernah mengabariku, hubei-mu. Dan kau tak pernah mengontak perguruan, terutama guru kita, Kim-Sungsaenim mengenai pernikahan mu. Dan tiba-tiba kau sudah memiliki seorang putra.. ????..".
".. jangan-jangan, kau sudah mempermainkan seorang wanita, kemudian kau tinggalkan begitu saja ya ?..".
"Ah.. ti..tidak.. Hae-young hubei,.. bukan seperti yang kau sangka...".
"Haaah !! Yang benar gimana, Adam sunbei ?" tanya Hae-young galak.
"Begini, Hae-young hubei.." Adam berusaha menjelaskan semuanya pada Hae-young. Temperamen Hae-young yang pemarah telah dikenalnya sejak kecil. Dan itu membuat Adam gugup.
"..tolong lepaskan aku dulu ya.." pinta Adam sambil meringis menahan sakit.
Hae-young melepaskan cekalan pada Adam. Mereka berdua duduk manis kembali ditempatnya. Sementara diluar, senandung peri malam terdengar begitu syahdu. Halimun yang berkumpul di tepian hutan Serin dan Sinomori semakin tebal. Malam semakin dingin.
"Hae-young hubei, adik perguruanku seorang.. ini akan kuceritakan.." tukas Adam sambil tersenyum menggoda Hae-young yang masih cemberut.
"Semua bermula sekitar sembilan tahun yang lalu... tepat beberapa saat setelah aku mengundurkan diri dari kemiliteran Arkania...".
Dan berkisahlah Adam tentang pengalamannya beberapa tahun terakhir ini. Kisah yang membuat Hae-young terkejut, marah, cemburu dan sekaligus sedih serta iba.
***
Shirley, Sang Wanita Naga
Sembilan tahun yang lalu...
Seorang pemuda berjalan terseok-seok memasuki sebuah gua. Nafasnya tersengal-sengal. Satu-satu. Dan terdengar berat. Sesekali ia terbatuk. Semburat darah terlihat keluar saat ia berupaya memuntahkan riaknya.
Tangan kirinya tergantung, seolah baru saja di gigit hewan buas. Badan sebelah kirinya terlihat parah hangus terbakar. Sementara sisi kiri wajahnya telah gosong mengelam.
Langkahnya terhenti ketika penghujung kekuatannya telah habis. Laksana nyala api kecil yang telah kehabisan minyak. Dan dia terjatuh.
Suara jatuhnya menggema ke sepenjuru gua. Bergaung menggetarkan pilar-pilar stalaktit dan stalagmit didalamnya.
Kemudian darah merahnya menggenang, membanjir dan membasahi lantai tanah di gua batu yang tersembunyi itu.
"...".
"...".
Sesosok wanita bergaun putih datang menghampirinya dengan cepat. Langkah kakinya seolah melayang diatas lantai. Laksana angin gunung yang membelai lembah.
Beberapa peri alam terlihat terbang mengitarinya. Dan, lamat-lamat bunyi denting lonceng terdengar disela kehadirannya. Sementara semerbak harum aroma peri alam menemani aura keberadaannya di gua batu tersebut.
Wajah lembutnya terlihat begitu gelisah. Pupil matanya yang berwarna hijau terlihat membesar, dipenuhi kegundahan.
Dengan tergesa-gesa karena khawatir, direngkuhnya tubuh pria muda didepannya itu. Kemudian dipeluknya erat, hingga detak jantung mereka saling bersautan.
"...".
"....!!".
"..Adam..".
"..a..".
"..Shirley..".
"..apa yang terjadi..?".
Adam tersenyum. wajah pucatnya semakin memutih. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, dibelainya sosok pemilik wajah lembut, yang sedari tadi memeluknya dengan penuh kekhawatiran.
Kemudian Adam terbatuk kembali. Darah mengalir dari tepian mulutnya. Dan nafasnya berat tersengal.
"..Shirl... is..triku.......... ba..gai...mana a..nak ki..ta ..?".
Shirley tersenyum semanis mungkin. Sebisanya. Semampunya. Tanpa bisa ia tahan, tepian matanya telah terbanjiri air mata. Yang menggenang. Dan perlahan jatuh. Menganak sungai dipipinya.
Dan laksana rintik hujan, menghujani wajah pucat Adam.
"..Adam.. telah lahir buah cinta kita. Mentari yang selalu kau bicarakan. Cahaya cinta yang dikatakan oleh Averoes, saat menikahkan kita...".
Adam terlihat bahagia. Pinggiran bibirnya yang tidak hangus terbakar menyematkan sebuah senyum tanda syukur dan suka cita.
"Te..ri..maka..sih.. wahai.. Sang Ma..ha Tung..gal...".
Setitik airmata menetes dari mata kanannya yang masih utuh.
"Shirl.. ?".
"..Adam, suamiku tercinta. Ya.. aku tahu.. kau ingin memeluknya. Sabarlah.. Hmm ? Ya.. dia anak lelaki yang tampan dan sehat.. sepertimu... sepertimu... suamiku tercinta.. Adam..".
"Te..ri..maka..sih.. is..triku... Shirl..".
Di luar, hembusan angin gunung menerpa lembut dedaunan pohon.
Sebuah daun bergoyang perlahan. Perlahan. Dan kemudian terlepas dari dahannya. Dari dahan pohon yang merupakan akar kehidupannya. Kemudian terbang ke langit, tempat dimana mentari dan awan bersatu.
Tempat dimana pelangi bertahta menjembatani para bidadari. Tempat dimana, konon, raga halus manusia dan alam kembali berpulang.
"..Shirl... tugas..ku.. u..sai.. menja..ga.. ke..luar..ga ke..cilku... ka..u.. sela...mat.. dan anak k..k..kita.. se..la..mat.. juga..".
".. Adam.. sudah.. jangan bicara lagi..suamiku".
"..Shirl.. ma..kasih.. a..tas indah..nya.. hidup...k..k..ku.. ka..rena..mu.. is..tri..ku..".
".. Adam.. sudah.. sudah.. jangan bicara lagi.. Adam...".
"..".
"..kan kurawat lukamu..".
"..Adam......... ?".
"..Adam...? Adam..?".
Dan seiring dengan menghilangnya daun tertiup angin, kehangatan ditubuh Adam berangsur menghilang. Perlahan tapi pasti, tangan lemah Adam terhempas ke lantai.
"Jangan.. jangan Adam... jangan... ", dengan panik Shirley membaringkan tubuh Adam di lantai.
"Akan kulakukan apapun untukmu.... jangan mati dulu Adam.. kumohon.. suamiku tercinta... cahaya hidupku..".
Shirley duduk bersila dihadapan raga Adam yang terbaring dihadapannya. Tangannya terbentang kedepan, menaungi raga Adam.
"Kau tahu Adam... bagiku kau lebih berharga dibandingkan hidupku... Sekalipun harus menukar hidupku demi hidupmu.. aku kan rela Adam...".
Shirley menyibakkan rambut hijaunya yang panjang menjuntai. Kerudung putih bergambar naga yang sedari tadi malu-malu bersinggah dikepalanya, kini jatuh tergeletak di lantai.
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
rozz-aremania: Final Fantasy + Legend of Gaia + Ragnarok + Warcraft + LOTR :D
Shirley Rosemary: Brama Kumbara, Tutur Tinular, Serigala Mataram... :D
rozz-aremania: huh.. ndak seru..
jafis: wiro sableng... huahhahaha
lelouch: :D
lelouch: 처녀 전사의 방패 = shield of virgin warriros (korean)
lelouch: La malvagità scura maledetta, gli brucia ogni odio = Cursed Dark Evil, Burn every hatred towards you (italian)
lelouch: spada triplice = triple sword (italian)
ketuakelas: gila pake bahasa korea segala :))
lelouch: pengen rada 'gila' dikit bos :D
lelouch: 失去的靈魂的洗淨 = Purification for the lost soul
lelouch: (tiongkok)
lelouch: sunbei = sempai dalam bhs korea, kakak seperguruan
Shirley Rosemary: hubei = kouhei dalam bhs korea, adik seperguruan
Shirley Rosemary: ddukbokki = kue nasi dengan saus merica
lelouch: Königlicher weißer Palast = Royal White Palace,
Shirley Rosemary: Kim-Sungsaenim=Guru Kim, sungsaenim=guru
lelouch: ROse, kasihin /*** kita flash back pindah fragmen, yuk ?
Shirley Rosemary: okay... ceritain masalalu adam hingga munculnya Shiloh ya ?
Shirley Rosemary: lu aja deh
Shirley Rosemary: luluuu.... apa maksudmu make nick name ku ?
lelouch: hahaha.... pinjem dikit napa sih ? pelit amat
Shirley Rosemary: lulu... buka buka buka puasa xixixixixi...
lelouch: iyoo
lelouch: design karakter:
lelouch: shiloh = curiuos, cheerful, brave-heart, inosen, hot headed attitude (dr chat dengan ketuakelas)
lelouch: adam = tua, konvensional, memegang nilai2 keluarga, family man, agak kontras dengan shiloh (dr chat dengan ketuakelas)
lelouch: ada yg mau nambahin?
Shirley Rosemary: tp bisa (boleh) berkembang kan?
lelouch: shirley, online ?
Shirley Rosemary: ya.. kerjain yuk?
lelouch: hayuk
Shirley Rosemary: lulu, serius make nick gw ? ganti donk.. risih deh ah
lelouch: ben... **cuek**
Shirley Rosemary: **injek-injek lulu**