Detektif
Peserta Kontes Rasa Ramadan - Kategori Detektif, dari regu Vodka
"Kakak, kau pernah melihat ayah ?".
"Kok nanya gitu sih, dek ?" tatapan lembut Rama pada Dani. Tatapan itu membuatnya berpaling dari tugas membersihkan teras panti asuhan yang kotor karena dipakai untuk makan sahur bersama.
"Aku pengen tahu wajah ayah, kak....".
"Hmm aku lupa..dek..".
"Kan kakak lahir duluan. Masak lupa siiih ? .... waaaaaaa pokoknya harus ingeeeeet....waaaaa....".
"Iya iya.. " Rama gugup dan takut, bila sang adek, Dani nangis beneran, "... ehem.. tinggi besar, tampan, dan bisa menggendongmu sampai ke bulan, dek..".
Dani menghentikan rajukannya. Dia memandang sang kakak sambil tersenyum riang.
Wajahnya kembali bersinar bak rembulan. Matanya kembali berbinar-binar.
"Benar Kaaaaak ? Aku akan minta gendong terus tiap hari nanti..", dan sang adek kembali tertawa riang, tanpa dosa.
"Kalo adek terus yang di gendong, kapan giliran kakak ?".
"Ye... kan kakak lahir duluan.... weeeeekk.. !!!".
"Justru lahir duluan, makanya kakak yang duluan di gendong yaaa?", Rama kembali menggoda Dani yang kembali cemberut.
Cemberut Dani bertambah dalam. Airmatanya mulai menumpuk dipelupuk matanya. "Kakak jahat. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......!!!" dan pecahlah tangis si cengeng Dani.
"Cengeng amat sih.." goda Rama sambali kembali mengumpulkan sampah yang sudah dikumpulkannya. Dikejauhan suara Adzan subuh lembut terdengar.
***
Pagi ini anak-anak panti asuhan disibukkan membersihkan rumah, ada orang kaya yang akan berbuka bersama mereka.
Uda Beni, si gendut biang onar panti asuhan itu berdiri berkacak pinggang. Rupanya dia tengah sibuk, mengganggu anak lain.
Dan seperti biasa, Uda Beni selalu mengincar Rama. Mungkin dia merasa kesal dan cemburu, melihat Rama yang masih mempunyai keluarga walau hanya seorang, Dani sang adek, gadis kecil berusia 6 tahun.
"Ambo nak nanyo samo awak tuh ? [aku mau tanya sama kamu tuh ?]" suara tenor Uda Beni membuat suasana hening sejenak.
Hanya Rama yang tetap cuek. Dia asyik dengan pekerjaannya, membantu sang adek, Dani berbenah cucian mereka.
"Apa betul bapak awak tuh banci ", suara tawa Uda Beni menggema di seluruh ruangan.
Kata-kata itu menusuk perasaan gadis kecil Dani. Dani yang begitu merindukan ayahnya. Dani yang begitu semangat membayangkan ayahnya. Tak terasa, airmata mulai membanjir di pipi Dani kecil.
Melihat mata Dani yang berbinar basah, Rama menghampiri Uda Beni yang sibuk mengalungkan sarungnya di bahu.
"Hey, Nyet coba ulangi ??" Rama naik pitam. Tangannya mendorong Uda Beni sampai terjatuh menggelundung.
"Bapak awak tuh banci !!!!!" Uda Beni balas mendorong keras Rama.
Rama terjatuh. Dan segera bangkit, kali ini langsung mendorong Uda Beni hingga terjatuh dan menindihnya. Keduanya bergulat di lantai. Bag ! Bug ! Bletak ! Pak !! Pok !! Auuuu !!! Clepok !! Plak !!!
"Aduhh... Uda Beni !!!! Rama !!!!", suara ibu panti memecah perkelahian. Cubitan mulai mendarat di tubuh Beni dan Rama, memisahkan keduanya dari perkelahian. Sejenak, gulat bocah itu terhenti.
"Sampai kapan kalian mau berantem terus HAAAAAAA ???????" murka Ibu panti tak terbendung. Kedua matanya melotot memandang kedua bocah tersebut. Nafasnya serasa berapi. Bludreknya kumat ! Dari jauh, Ibu panti terlihat sangar dan menakutkan.
Dari kejauhan, beberapa puluh pasang mata bocah memandangnya sambil menggigil karena gemetar ketakutan. Mereka serasa melihat betari Durga bertriwikrama, siap menelan tumbal bocah, seperti yang biasa didongengkan nenek dimalam hari.
"Hayoo !!! Siapa yang ngajakin berantem duluaaan ????".
Rama menuding Uda Beni disampingnya, "Monyet gendut !".
Uda Beni menoleh dengan wajah jengkel, dan balik menuding Rama, "Banci !!!!".
Plok !!!!!!!! Kontan, bogem mentah Rama mendarat mulus di bibir Uda Beni. Tanpa ampun.
Dengan gelap mata Uda Beni kembali mencengkeram Rama. Mirip seorang pegulat sumo menangkap musuhnya, Uda Beni membanting Rama. Wiiii.....ng .. Blugh !!!
Waaaaaaa .....!!!!
Plok !!!! Bag ! Bug ! Bletak ! Pak !! Pok !! Auuuu...rg !!! Clepok !! Plak !!!
"....kaliaaaaaaan..... Sampai kapan kalian mau berantem terus HAAAAAAA ???????" murka Ibu panti kini semakin tak terbendung. Darahnya kini naik hingga ke ubun-ubun.
Dengan segera, melayanglah kedua tangan Ibu panti, menjewer keduanya keras-keras.
Nyuut...!! Sejenak, gulat kedua bocah bengal itu terhenti.
"Ampooouuuuunnn Buuuuu..... ampuuuunn..." sekejap kemudian keduanya berteriak kesakitan.
"Kenapa sih kalian ini... doyan sekali berantem ?????" omel Ibu panti sambil menggiring keduanya ke ruang hukuman.
"Renungi kesalahan kalian disana. Bila tidak, kalian tidak akan dapat jatah berbuka puasa Lohor nanti. Kalian harus puasa sampe Ashar. Kalau perlu... sampe Maghrib, bareng sama Ibu berbukanya !!!!" tukas Ibu panti tegas, memberi hukuman pada keduanya.
"Whaaaaaaaa ...????" keluh keduanya serempak. Kali ini dengan nada yang nyaris stero. Kompak mengeluh.
"Biar kalian rasakan !" omel Ibu panti kembali, sambil menutup pintu ruang hukuman.
***
Malam hari, selepas Taraweh.
Baru saja bubaran taraweh di panti itu. Beberapa anak langsung bersorak riang menuju kelapangan. Saatnya bermain-main..
Sementara itu, di ruang kantor panti, Rama duduk dengan wajah menunduk dihadapan Ibu panti.
Ibu panti terdiam sambil menyeruput tehnya dengan tenang. Mukenanya belum lagi dilepas dari wajahnya.
Didepannya, terpisah oleh meja ketik, Rama menunduk. Masih mengenakan kopiah dan sarung tarawehnya.
Perlahan, Ibu panti memperhatikan Rama. Beliau meletakkan cangkit teh yang sedari tadi dinikmatinya.
"Tak biasanya kau memulai berantem duluan, Rama...." tegur Ibu panti. "Kenapa ?".
Rama mengangkat wajah bocahnya, "Aku gak suka dia ngatain Bapak.".
"Hmm ?" alis Ibu panti berkerut.
"Dia bilang bapak banci...." kata Rama polos dan jujur.
".. ya aku tonjok langsung." lanjut Rama ".. abis gak sopan sih Bu!".
"Ramaa.... tak semua masalah bisa selesai dengan kekerasan, nak.." nasehat Ibu panti lembut. Dia bangkit untuk membelai kepala bocah laki-laki itu. Dia tahu, Rama demikian merindu akan sosok ayahnya.
Rama terdiam dan menunduk.
Ibu panti memeluk Rama dengan penuh sayang. "Anak baik, kau rindu ayahmu ya ?".
"Ibu panti... ayahku dimana ?" tanyanya polos.
Ibu panti melepaskan pelukannya. Dilihatnya wajah Rama dengan seksama.
Kemudian beliau bangkit,menuju kesebuah loker tua. Sepertinya beliau teringat akan sesuatu. Satu persatu barang yang ada disana ditelitinya dengan baik.
"Ini Rama..." kata Ibu panti sambil berbalik. Ditangannya telah tergenggam sesuatu.
"Ibu panti terdahulu, sempat menerima liontin ini dari seseorang yang menitipkanmu dan adekmu Dani... mungkin ini peninggalan kedua orang tuamu, Rama" kata Ibu panti sambil menyerahkan liontin itu.
Rama menerima liontin itu dengan takjub. Diterimanya barang tersebut dengan khidmat, laksana azimat suci.
Namun.. tiba-tiba... liontin itu melorot, dan terjatuh.
Trang....
Dan terlepaslah penutup depan mata liontin tersebut. Didalamnya terlihat sebuaf foto usang seorang pria muda. Cukup tampan. Dibagian bawahnya tertulis, "Jakarta Modern Picture".
Rama terpana... mata nya berbinar laksana bintang.
Petunjuk pertama menuju ayah ! Demikian otak bocah Rama berpikir.
Dan, dipungutnya liontin pecah tersebut. Dadanya semakin berdebar. Ayah semakin dekat, pikirnya.
***
"Jakataaaaa !! Jakarta ..!! Kita ke Jakarta, kaaaaaaaaak... Ayah pasti disana.." celoteh riang Dani kecil. Kuncir rambutnya teruntai-untai seirama loncatan riangnya.
Kerudung mungilnya ikut menari seirama. Selaras dengan lonjakan kebahagiaan gadis kecil itu. Sementara, mata bocahnya tak henti-henti menatap jenaka pada kakaknya tersayang, Rama.
Senyum manis mekar terpampang diwajah Rama " Kayaknya ayah kita orang kaya deh..!".
"Oooaaa... iya tah kaaak ???" tawa riang gadis kecil itu membahana.
"Iya iyalah..masak ya iya dong", Rama menyodorkan sebuah foto ke wajah Dani, "Gayanya aja udah keren nehh?".
"Kakak.... masih keren ayah, kak ..." protes sang adek sambil mengamati foto tersebut. Bolak-balik matanya membandingkan antara wajah di foto dengan wajah sang kakak, Rama.
"Huh !" Rama cemberut sambil membuang muka.
"Waaaa... kakak marah yaaaa ? hahahahahaha..." goda sang adek, Dani.
"Emmm...." Rama bergumam lirih.
"Kak...." tangan mungil sang adek menyentuh kakaknya. "Cari ayah yuk ? Mau kan kak....?".
"Heeeeeeeeeeeee ?????" terkejut Rama mendengar pinta adeknya. Secepat ini ? Baru aja dia mikir-mikir.
"Aku malu ..diledekin Uda Beni terus!", Dani memeluk pinggang Rama, "Kita buktiin kalo ayah kita nggak banci!".
"Mau kan kaaaaaak ?"" rengeknya kembali. Tangisnya siap pecah.
"Tapi mesti cari kemana ? " Rama mencubit pipi Dani yang mulai mekar kemerahan.
"Pokonya di cariiiii.....!!!!!" paksa Dani sambil mulai mewek. "Ngggg.....".
Rama mulai gugup. Dia tahu, Dani kalo sudah ada maunya gak bisa di cegah. Kalau perlu, dia akan nangis seharian. Sampai lelah.
"Tadi kan Dani udah bilang, ke Jakarta, kaaak !! Gimana kalo kita ke Jakarta!" teriak Dani.
"Hah ?????" kaget Rama.
"Iya.. Jakarta...!!! Mau ya kaaaaaak ????".
"Haaaaaaaaaaaaaaaa ??????" kali ini Rama semakin melongo.
"Kakak neh gemana seh...kita kan punya foto ayah ? " suara Dani semakin terdengar jelas di telinga Rama.
"Beneran nih mau nyari ?" tanya sang kakak tak percaya.
"Iya...!!" spontan dan tegas, jawab Dani kecil pada kakaknya.
"Ntar kita nginap dimana yaaa?" Rama kecil mulai serius untuk menerima usul Dani.
"Udah ... jalan aja deh kaaak... nginepnya di masjid aja.." rengek Dani sembari tak sengaja, memberi solusi.
"Duitnya ?" tanya Rama lagi. Dia bener-bener pusing meladeni permintaan sang adek.
"Tabungan kakak kan banyaaak...." pinta adeknya, " Tabunganku juga..".
"Yang bener, dek ?" tanya Rama ragu.
"Terus gimana caranya ke Jakarta ?", dalam hati Rama bertanya. Dia pusing juga menanggapi permintaan adek kecilnya semata wayang ini.
"Oh iya !!! Bisa dengan cara itu ...", kata Rama dalam hati. Mendadak otaknya menemukan sebuah ide cemerlang.
"Bukankah tempo hari, Bang Togar yang biasa mengantar buah-buahan dan beras ke panti datang dari Jakarta ? Dia ngangkut semuanya dari Yayasan di Jakarta ke sini. Yesss !!!" sorak batin Rama dalam hati. Sebuah cara untuk kabur telah ditemukannya.
Dengan senyum jenaka yang bengal, dia tersenyum pada Dani, "Hayuk.. kita ke Jakarta, dek ?".
"HOREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE !!!!".
***
Esoknya, Selepas Sholat Taraweh.
Brrrrmmmm..... !!!! Laju sebuah truk meninggalkan Panti tersebut. Menyisakan debu-debu jalanan di belakang.
Sementara itu, didalam gelapnya bak belakang truk, terlihat kedua bocah bengal tersebut sedang bersembunyi sambil cekikikan. Mereka senang, berhasil menyelinap masuk ke dalam truk tersebut.
"Kakak hebaaat..." puji Dani sambil mengedipkan mata kanannya. Dibelakangnya tergantung ransel mungil berisi makanan, minuman dan dua pasang baju cadangan mereka.
"Hehehehe..." guman Rama sambil balik mengedipkan mata. Tangan kanannya mengacungkan jempol pada sang adek.
"Dah, adek bobo dulu sana, ntar juga nyampe.." kata Rama. "Hehehehe...".
"Iya kak... Hehehehe...".
"Hehehehehehe....kakak juga ngantuk nih..".
Tak berapa lama kemudian, dengkur halus mereka meningkahi bunyi ribut mesin truk yang terus bergoyang. Walau tak nyaman, mereka nyenyak tertidur, memimpikan perjumpaan dengan ayah tercinta, yang kaya raya.
***
"MasyaAlloh !!!!!!! Ada bujang-upik numpang tidur di truk saya. Alamak jaaaang,... Rama dan Dani... mampuslah awak...".
Bang Togar terlihat terkejut bukan main melihat hadirnya dua orang penyusup cilik dalam bak truknya. Dengan gusar, diapun mengomel panjang lebar.
"Maafin kami Baaaang!" Rama dan Dani sudah duduk disamping Bang Togar yang sibuk mengemudikan laju truk meuju Jakarta. Dari mulut mungil Rama, meluncurlah rencana bengal mereka, pergi mencari Ayah ke Jakarta !
Bang Togar mendengus kesal.
"Banyak kali cakapmu Rama" Bang Togar mulai mengelap keringat yang keluar dari dahinya setelah mendengar keinginan Rama "Jakarta itu kejam .. tau tidak kau ?".
"Gaalak seperti ibu panti, ya Bang ?" celetuk Dani.
"Apa kau bilang..?" sepasang matanya melotot ke arah Dani, "Abangmu ini cinta kali sama kalian.. mana pula lah kubiarkan kalian di Jakarta".
"Jadi abang mau menemani kami mencari Ayah ?" tanya Rama dengan berbinar.
"Ahhh.. tak segampang itu Jakarta mewujudkan impian kau!!!", kali ini Bang Togar mempercepat laju truknya "Sudahlah.. sementara waktu kau tinggal sajalah dirumah Abang, nanti minggu depan kuhantar pulang kau kemari".
***
Rumah Mungil milik Keluarga Togar Nasution, didaerah Senayan, Jakarta.
Bukan hal yang sulit bagi Rama dan Dani untuk mengambil hati istri Bang Togar. Kerajinan dan kesopanan mereka membuat seisi rumah merasa ada sepasang pelangi yang jatuh di rumah mereka.
"Kak...? Gimana nih, masak minggu depan kita akan dipulangin ke panti ?" tanya Dani suatu waktu pada sang kakak. Suatu pagi yang cerah, dimana hanya tinggal mereka berdua dirumah.
"Sebentar...." Rama sibuk membolak-balik buku daftar customer bengkel Bang Togar, sehari yang lalu dia melihat seorang lelaki yang membawa BMW mirip dengan foto yang ada ditangannya.
"Kayaknya ini ayah kita, dek ..." komentar Rama sambil menunjukkan jarinya. Kontan, Dani melonjak tak sabar. Ingin ikut melihat.
"Waw... pasti orang kaya nehh? "ujar Dani sembari memperbaiki jilbab mungilnya.
Rama menoleh kepada adeknya dengan bangga. Bibirnya tersenyum lebar. "Cari yuk, dek ??????".
"Ayukkk...!" Dani tertawa girang sambil mencoba bergoyang patah-patah bak penyanyi dangdut yang sedang memancing hasrat penontonnya.
"Kapan kak kita berangkat ?".
"Setelah tante Rose pulang belanja aja" Rama mulai menulis surat ucapan perpisahan untuk Bang Togar sekeluarga, "Kakak nggak mau nanti Abang Togar pusing mencari kita, jadi di buat aja kalo kita udah pulang, ya?".
"Hehe.. Iya iya kak.. " sahut sang adek sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, mirip Woody Woodspecker. Senyum bocah yang berhiaskan gigi bogang tersungging lucu di wajahnya.
"Rama... " suara Tante Rose menghentikan percakapan meraka "Cobalah kau bawakan belanjaan tantemu ini...".
Dan menghamburlah kedua bocah itu menuju Tante Rose, seorang wanita subur yang baik hati. Berbeda jauh dengan Ibu panti yang tinggi langsing, Tante Rose jauh lebih subur, gemuk dan punel.
***
Disebuah Lokasi Parkir Apartemen, Seputaran Jakarta Design Center.
Kedua bocah bengal itu tengah asyik mengamati mobil yang lalu lalang keluar masuk parkiran apartemen. Mata mereka berbinar penuh minat. Sementara hati mereka selalu menyeru, "Ayah.. ayah..".
Tak lama... Datang seorang pria perlente berusia 60-tahunan yang turun dari BMW. Dia menggandeng seorang wanita paruh baya yang terlihat sedang uring-uringan berat.
Rama menudingnya dari kejauhan, "Lihat dek ! Mirip ayah khan ?".
"Ayaaaaaaaaah....... ini kami anakmu..." tiba-tiba suara Dani melengking seiring derap kakinya yang berlari kecil ke arah mereka yang barusan keluar dari mobil BMW.
Pria perlente itu menoleh bak disambar petir. Terutama saat dikecil Dani menghambur dalam pelukannya.
"PAAAAPPPIIIII !!!!!! ruponyo bukan cuma berani kawin dengan daun mudo bae yee. neh lah punyo anak pulo ???? Kurang ajaaar...!!!"seketika sang istri merah padam mukanya menahan amarah yang sudah dari tadi membuncah.
Sontak, pria yang dipanggil Papi itu pucat dan gugup, layaknya maling tertangkap basah, "Tapi mi...Sabar mi.. sabar ... ini salah paham bae... ".
#@*Y$@@# #!!! Bag !!! Bug !! Bag !! Bug !!
Dan dimulailah pertikaian keluarga tersebut. Sebuah salah faham yang umum terjadi laksana sinetron tivi.
Plak !!!! "Sudahlah aku dak percayo lagi samo kau tuh pap!" sang Mami berlalu meninggalkan Sang Papi yang meringis kesakitan "Dasar buayo..!".
Dengan merintih menahan perih dimukanya, sang Papi melepaskan pelukan Dani dan menghampiri Rama. Pandangannya memelas, laksana maling ayam tertangkap hansip.
"Nak, kau pergilah sana. Ini ambil uangku, belilah roti atau apa saja, yang penting jangan dekati saya, ya nak ?" sang Papi dengan wajah bengap membiru, meminta mereka pergi, sambil memberi uang 200rb-an.
Rama dan Dani menerima pemberian itu dengan wajah pilu. Hati mereka kecewa sekali. Tak terasa, bintik airmata telah membasahi pipi montok Dani sang gadis kecil.
"Bukan ayah kita dek ? Rama merangkul tangan Dani untuk melangkah pergi meninggal pelataran parkir yang penuh oleh sorot mata memperhatikan mereka.
"Aku tahu kaaak !!! Pasti ayah lebih kaya lagi daripada oom itu... Iya deeek !!! Ayuk kita cari yuk ...." tiba-tiba Dani bersorak menyemangati. "Ya, kan Kak ???".
Rama tersenyum. Dielusnya kerudung si kecil Dani. Betapa optimisnya pola pikir sang adek ini. "Ya dek.. pantang menyerah, ya ?".
***
Sore harinya, Ba'da Ashar, Disebuah daerah pemukiman.
"Waaaa.., rumahnya bagus-bagus dan besar-besar ya dek ?" Rama terperangah kagum memandang sekelilingnya. Mereka baru saja terdampar ke daerah tersebut.
"Iya, kak. Ayah kan kaya... Pasti tinggal disini, kak..." celetuk Dani naif.
Dengan penuh kekaguman, mereka berkeliling mengitari komplek perumahan itu.
Hingga terik matahari terasa membakar di ubun-ubun.
"Kak.. pusing..".
"Iya.. dek..".
"Ka..k..".
"Iya dek ?".
"Udah waktunya lohor kali, kak. Buka puasa yuk..? Kan kita cuman puasa bedug aja"dani memeluk tubuh kakaknya.
"Heh.. heh.. iya dek.. Buka puasa sama apa dek ? Duitnya ketinggalan di rumah Bang Togar..".
"Yaaaaaa.. kakak...", sahutnya adeknya kecewa.
"Yaaaaa... sabar ya dek..." sahut Rama sambil berhenti berjalan. Dan duduk dibawah pohon palm disepanjang jalur hijau.
Dani mengikuti polah kakaknya. Badannya disandarkan dibawah pohon yang mirip beringin tersebut.
"Kaaak.... haus.." rengeknya.
"Sabar ya deeek...." sahut Rama pelan. Tubuhnya kini disandarkan dibawah pohon itu.
Lelah, haus dan rindangnya dedaunan pohon, serta sepoi-sepoi angin membelai, membuat mereka terlena.
Tanpa mereka sadari, mereka telah lelap tidur sambil duduk bersandar dibawah pohon tersebut.
"Kaak.. haus.." rengek Dani dalam tidurnya.
***
"Hey.. nak.. nak.. Sedang apa kalian disini, le, nduk ?".
"HAH !!" Rama terkejut, dan segera bangun dari tidurnya. Dani pun mulai membuka matanya.
Ternyata suara seorang bapak yang membangunkan mereka.
"Sedang apa kalian disini, le ?".
Kreoooot..... Kruyuk..., terdengar suara perut yang tengah lapar.
Wajah Rama memerah karena malu. Dengan gusar, disenggolnya Dani.
Namun Dani tetaplah Dani, dengan polos dia berkata, "Paaak... lapaar....".
Sang bapak tertawa lebar. "Ya.. ayo.. ikut bapak ke rumah Bapak. Disana ada makanan." katanya sambil menggandeng mereka berdua. "Siapa namamu nak ?".
"Saya Rama pak, ini adek saya, Dani.." jawab Rama polos, bagai kerbau dicocok hidungnya.
"OO... Rama dan Dani ya ? Nama Bapak, Sastro.." katanya memperkenalkan diri "Sedang apa tadi, koq kalian sampai tertidur disana ?".
"Mencari ayah Pak..".
"Dan, siapa ayah kalian ?".
"Tinggi dan kaya, Pak".
"Namanya ?".
Rama menggeleng.
"Bapak sering dipanggil manggung sama Bapak-Bapak kaya, nak.." sahut Bapak tersebut. "Bapak biasa manggung jadi badut ulang tahun.".
Rama dan Dani memandang Pak Sastro dengan penuh harap kekaguman.
"Mungkin kalo kalian mau membantu Bapak, kalian akan bisa bertemu dengan Ayah kalian yang tinggi dan kaya, nak..".
Masih dengan tatapan mata penuh kekaguman, keduanya mengangguk dengan cepat.
Pak Sastro tertawa. Dielusnya kepala kedua bocah tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Nah, sudah sampai rumah bapak yang mungil dan jelek.. hehehe... ayo kalian makan dulu..".
***
Sore harinya, Disebuah rumah gedongan yang besar.
Rama sudah berdandan ala badut. Wajahnya dipupur putih, dengan garis merah melebar yang dibuat selalu tersenyum.
"Hahahahahaha... kakak lucu.." komentar Dani melihat kakaknya, walau dia sendiri lupa, tampangnya pun tak jauh lebih memalukan lagi.
Keduanya mirip kurcaci Cinderella dari negeri dongeng. Mungil, bertampang jenaka, dengan perut gendut berisi balon. Sementara pantatnya menonjol, mirip donal bebek.
Dan dimulailah acara tersebut.
Pak Sastro beraksi jenaka. Dan Rama-Dani mengikutinya dengan riang.
Plok..plok..plok..plok.. !! Tepuk tanga bergema. Dan pita-pita ceria pesta berterbangan dengan riang.
Ditengah arena acara, seorang gadis kecil seumuran Dani bersorak kegirangan atas ulang tahunnya. "Horeeeeeee...!!!!".
Sebuah kue tar besar, balon-balon yang bergantungan dilangit, teman-teman kecil yang bersorak dan berdatangan memberi selamat.
"YAAAAA...!!!!!!!" Bernyanyi, bertepuk tangan, dan bersorak. "Huraaaaayy....!!!!".
Terkadang saling menukar peluk cium dan kado.
Dan tak lupa, ayah ibu yang hangat, yang selalu memeluknya sayang dan memanggilnya dengan mesra.
Sebuah keluarga yang bahagia.
Dan seorang gadis kecil yang beruntung.
Tak terasa, air mata Dani meleleh melihatnya. Dia iri dan sedih.
"Kapan aku bisa senang dan disayang seperti dia ?", tangisnya dalam hati.
Kesedihan yang tertutup make up seorang badut yang harus selalu tersenyum riang sepanjang waktu.
Tangisan yang tersembunyi oleh tebalnya keringat dan make up jenaka.
Kesedihan yang sangat sunyi dan menyayat.
Kesedihan seorang anak yang tidak memperoleh kasih sayang dan kehangatan kedua orang tuanya.
***
Malam hari, beberapa kilometer dari tempat Pak Sastro, beberapa kilometer dari rumah gedongan tadi.
Jam baru saja menunjukkan pukul delapan malam.
Dani masih menangis sambil memegang erat tangan kakaknya.
Ya, mereka baru saja berpisah dengan Pak Sastro.
Kejadian tadi telah membuat luka didalam batin Dani. Jiwa seorang anak yang begitu merindukan belaian kasih sayang kedua orang tuanya. Sesuatu yang sama sekali belum pernah dirasakannya.
"Dani... adek... sudah ya,... jangan nangis.... Kakak disini koq..." bujuk Rama.
"Nggg.....nnngggg...." isak Dani sambil menyembunyikan wajah dibalik punggung kakaknya. "Kaak...?".
"Iya dek...?".
"Kenapa bukannya kita yang kayak mereka ya Kak ?".
Rama terdiam. "Kakak gak tahu dek..".
"Kenapa Ayah tidak mau bersama kita Kak ?".
Rama hanya mengelus sayang kerudung adek kecilnya. Hatinya terasa sakit dan pilu tersayat.
"Kenapa Ayah tidak mau ketemu kita ya Kak ? Padahal kita kan sudah mencarinya kemana-mana..".
"Mungkin belum ditakdirkan Gusti Alloh, dek....".
"Kenapa kak ? Bukannya Gusti Alloh Maha Penyayang ?".
Rama kembali mengelus kerudung kecil adeknya kembali.
"Mungkin karena kita mencari ayah yang kaya, dek... Padahal rejeki kita bukan ayah yang kaya....".
"Dani tetap senang koq kak, asalkan ketemu Ayah. Gak kaya juga gak papa... Dani kangen ayah. Dani ingin ketemu ayah..." isaknya kembali.
***
Waktu baru saja menunjukkan pukul dua dinihari, ketika Dani bangun dari tidurnya diemperan masjid, dan memanggil-manggil kakaknya, "Kaaakk..".
"Hmm..".
"Kaaak.... sahur...".
"Hmm... sahur sama apa dek ?".
"Pokoknya bangun dulu kak...".
"Iya...iya..." sahut Rama dengan malas. Dia bangkit duduk, dan memandang adeknya "Mau sahur dengan apa dek ?".
"Lapar kaaak...".
"Ya... sabar dek....".
Keduanya lalu terdiam.
Angin dingin mulai menyapa raga mereka. Dan menemani perut kosong mereka dengan masuk anginnya.
Beberapa pengunjung masjid melihat mereka dengan iba. Ada beberapa yang menawari minuman hangat, yang langsung diteguk oleh Dani dengan rakusnya.
Gemuruh suara perut mereka bersahutan.
Kreoooot..... Kruyuk..., suara perut yang tengah lapar. Dan terdengar hingga keluar.
Rama merasakan tubuhnya kacau dan kepalanya mulai pusing. Dia kelaparan. Namun ia lebih mengkhawatirkan adeknya, Dani. Pasti dia lebih menderita lagi.
Dan berdua, mereka terkatuk-katuk, menahan lapar dan dingin, diemperan masjid.
....zzzz....
Kreoooot..... Kruyuk...
...
"Nak....".
"Nak... bangunlah... " seorang lelaki tua menepuk pundak Rama.
"Kalian belum sahur kan ..?" suara lirih seorang bapak membangunkan mereka perlahan.
Perlahan Rama membuka mata. Dia masih meringkuk kedinginan dan kelaparan diemper masjid. Begitu juga Dani.
Kesadarannya datang dengan perlahan, dan langsung disambut terjangan bau harum yang menggugah selera.
Rama memandang Bapak itu dengan pandangan tak percaya. Seorang pria kurus berwajah sayu namun berpandangan teduh terlihat memandangnya sambil tersenyum. Kaos putihnya terlihat terbungkus dibalik jaket usang berwarna hitam.
Dan kopyah hitamnya yang bersarang di atas kepala, mengingatkan Rama akan foto seorang pembesar negeri yang dipajang di kantor panti asuhan. Mungkin bapak ini saudaranya, pikir Rama.
"Makanlah nak... biar badanmu hangat dan tidak masuk angin. Ini juga untuk adekmu.." katanya sambil memaksa Rama dan Dani menerimanya.
Tanpa pikir panjang, dan didorong rasa lapar yang tak tertahankan, keduanya langsung menyerbu hidangan belas kasih tersebut.
"Lezaaaat sekali..." pikir Rama sambil sibuk menghabiskan hidangan tersebut. Sepasang mata kedua bocah itu berbinar-binar terimakasih tak terhingga.
"Enak paak....".
"Hehehe... tentu saja enak.. Itu Soto Madura Bang Roes yang terkenal itu.." sahut sang Bapak sambil tersenyum membanggakan dirinya. "Panggil bapak, Pak Roes nak...".
Keduanya mengangguk serempak.
"Terus, sedang apa kalian disini ?".
"Mencari ayah, Pak Roes.." kata mereka serempak, mirip radio FM Stereo.
"Siapa bapak kalian ?".
Rama menggeleng lesu.
"Tidak tahu ? Terus bagaimana kalian menemukannya ?".
Rama merogoh liontin yang sedari kemarin tersimpan disaku celananya. Dia merasa lega, saat menyadari benda tersebut masih berada ditempatnya.
"Dengan ini pak..." jawab Rama sambil menyodorkan liontin tersebut.
Namun licinnya tangan Rama yang berkeringat, membuat liontin tersebut tergelincir. Dan kembali jatuh.
Trang....
Ekspresi Pak Roes berubah.
"Kalian....?".
Wajahnya menjadi sangat terkejut.
"D...d...da....daa..rimana kalian dapatkan liontin tersebut..?" tanya Pak Roes terbata-bata.
Dengan wajah yang gundah luar biasa, Pak Roes merogoh dompetnya di saku belakang. Dan tak lama kemudian, mengeluarkan sebuah liontin yang sama persis dengan liontin yang dibawa Rama.
Dan ternyata, kedua mata liontin tersebut memiliki hiasan yang dapat digandengkan.
Sepasang liontin !
"Darimana kalian dapatkan liontin tersebut..?" tanya Pak Roes kembali mengulangi pertanyaannya. Wajahnya nampak tak karuan. Emosi hatinya yang campur aduk, tergambar jelas diwajahny.
"Dari ibu panti di panti asuhan kami Pak Roes..." sahut Dani. "Kata ibu panti, itu milik orangtua kami. Jadi kami cari ayah dengannya..." kata Dani sedikit bangga. "Kita kayak detektif kecil aja ya kak ?
"Hmm..hmm..." sahut Rama dengan mulut yang masih penuh.
Airmata menitik dari mata Pak Roes. Wajahnya kini berubah teduh. Dan bahagia.
"Alhamdulilaaaah.... Subhanallaah... Alloooohu akbaar...." puji Pak Roes dengan bergetar.
"Pak Roes.. kenapa ?" tanya sikecil Dani.
"Lihat, nak... Bapak juga punya liontin yang sama dengan kalian.." sahut Pak Roes bergetar. "Ini liontin bapak, lihat mata liontinnya bisa digandeng kan ? Didalam liontin bapak ada foto kalian yang masih balita....".
"Jadi...???" Rama terkejut dan menjatuhkan mangkok sotonya.
"Kalian Rama dan Dani kan ?".
"Iya Pak, aku Rama dan ini Dani.." sahut Rama sambil gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Alhamdulilaaaah.... Subhanallaah... Alloooohu akbaar...." puji Pak Roes kembali. Kali ini dia langsung sujud syukur.
"Kalian mencari ayah kalian kan, Rama, Dani ?".
Rama yang tanggap akan situasinya langsung menghambur memeluk Pak Roes..."Ayah....", bisiknya sambil memeluk Pak Roes.
Tangis Pak Roes pecah sudah. Airmata kerinduannya tumpah. Buah hatinya telah kembali padanya.
Rama pun begitu. Dipeluknya tubuh Ayahnya dengan kerinduan tak terperi. Sementara Dani masih kebingungan, mulai terimbas dalam keharuan. Dia mulai mewek dan menangis lagi.
"Kemari dek.. ini ayah kita... " panggil Rama, mengajak adeknya memeluk sang Ayah.
"Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..... ngggggggggg.......waaaaaaaaaaaaaaaa...." pecah sudah tangi Dani. Dengan bersegera ia melompat keharibaan sang Ayah.
Ketiga bertangis-tangisan. Permata hati, kini telah kembali. Rasa haru dan bahagia kembali bertahta. Mengkudeta nestapa yang telah lama berkuasa.
Sebuah reuni keluarga yang tidak biasa.
Namun penuh nikmat dan kesyukuran.
Beberapa jamaah masjid yang memahami situasinya menitikkan airmata.
***
Gema takbir bertalu-talu. Lebaran telah tiba. Dan sholat Ied baru saja usai.
Seperti biasanya, acara silahturahim bermaaf-maafan telah dimulai.
Tak terkecuali di panti asuhan "Hasan dan Husain".
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu... Banci pulang Buuu..." jerit Uda Beni memanggil Ibu panti.
Sontak, seluruh penghuni panti bersorak riang. Mereka berlarian keluar, menyambutnya.
Tak terkecuali Ibu panti.
Dengan cemas bercampur gemas, beliau berlari keluar.
"Rama... Dani .. !!! Ahh......".
Sesosok lain yang mengantar mereka pulang, dan tengah menggandeng mereka membuat jantungnya serasa dibetot keluar.
Matanya melotot tak percaya. Sanggaan tubuhnya melemah, dan dia jatuh terduduk... Sementara telunjuk menuding.. kearah Pak Roes.
"Aa' Roes.....".
Pak Roes tak kurang terkejutnya. Ia seolah tak mampu mempercayai pandangan matanya. Kakinya terasa lemas. Dan dia terjatuh pada kedua tumitnya...
"Maemunah...".
"YA Alllooooooooohhhhh.... !!!!!!" Kali ini ibu panti yang menyerbu ke arah Pak Roes dengan histeris. Memeluknya dengan linangan air mata.
Pak Roes menyambutnya dengan bersimbah airmata pula.
"Maemunah.. maemunaah,... ya Allloooh.... alhamdulilah, kau kumpulkan keluarga kami kembali...".
"Nggggg.... Aa'.... maafin Munah... aa'....." isak tangis Ibu panti bercampur haru bahagia sambil memeluk suaminya.
"Ya... ya istriku... maafin aa' juga ya...".
"Rama,.. Dani.. sini nak... ini ibumu .....".
...
"WAaaaaaaaaaaaaaaa.......".
Dan pecahlah tangis baru di pagi nan Fitri itu.
Hari kemenangan yang menyatukan sebuah keluarga kecil yang telah lama terpisah.
***
[Epilog].
Kesulitan hidup di daerah Indramayu saat itu membuat sang Ibu, Maemunah tak tahan. Dan kabur ke Jakarta. Meninggalkan Rama yang baru berusia 4 tahun, dan Dani yang masih balita.
Pak Roes, sang ayah terpaksa pontang-panting membesarkan keduanya yang masih balita. Hingga terpaksa merantau ke Cilacap. Sayang keberuntungan belum berpihak padanya.
Sehingga dalam kondisi frustasi, terpaksa meninggalkan mereka kesebuah panti asuhan di Cilacap.
Almarhum Ibu pengurus yayasan panti sebelumnya, menemukan mereka yang ditinggalkan begitu saja di depan panti asuhan. Beliau memutuskan untuk merawat mereka.
Sementara itu ibu mereka yang gagal mengadu nasib di Jakarta, terdampar ke Cilacap 5 tahun berikutnya. Kemudian bekerja sebagai ibu panti disana, menggantikan ibu panti asuhan sebelumnya yang telah meninggal.
Foto diliontin diambil saat ayah mereka masih muda dan belum menikah, serta di cetak di 'Jakarta Modern Picture'.
Sementara liontin tersebut dibuat saat mereka dalam perantuan di daerah Cirebon, sepeninggal ditinggal kabur ibu mereka.
Terkadang, kita baru menyadari bahwa kita kaya saat kita menyingkirkan kekayaan berupa materi.
Kawan, seandainya kau bertemu Rama dan Dani lain di planet ini, apakah yang akan kalian lakukan ?
Meninggalkannya dan menyerahkannya pada nasib ?
Atau mengulurkan tangan sarat kasih sayang seperti halnya Pak Roes, Pak Sastro dan Bang Togar ?
Semoga kita semua mencapai kemenangan di hari kemenangan yang fitri nanti. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.
Tebarkan kasih di muka bumi ini. Save Our Children!
Salam sejahtera dan sukses selalu. Wassalam Wr. Wb.
Terimakasih telah sudi membaca persembahan kecil kami.
***
(Team Vodka : jafis, lelouch dan rozz).
(Ramadhan 17, 1429H - 17 September 2008).
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
jafis: tulisan aku silahkan di edit yaa boss...kalo ada yg nggak sesuai
jafis: dan ganti jadi tidak
jafis: mantabs
jafis: saya jadi lebih banayk belajar neh..
rozz-aremania: hai hai hai
lelouch: katanya sakit?
rozz-aremania: gpp bentar aja.
rozz-aremania: halo bos jafis
rozz-aremania: halo louch... dikau kemana ?
rozz-aremania: diskonek ya?
lelouch: lemot.. kayaknya aku off abis ini ..
lelouch: ini fragmen 3 ya ... temanya : kabur
rozz-aremania: udah bener-bener off ya lulu ?
jafis: halo...
lelouch: halow bos jafis
lelouch: rozz ? online ?
rozz-aremania: iyooo ....
rozz-aremania: halo cak jafis
jafis: halo rek...wakkaak
rozz-aremania: online lulu?
lelouch: yoi coy
lelouch: tolong ketik gini rozz :
lelouch: /*** Esoknya, Selepas Sholat Taraweh
rozz-aremania: ok
lelouch: lanjut rozz, didalam bak belakang, keduanya toss karena sukses menyelinap
rozz-aremania: off dulu ... buka puasa
lelouch: yoi coy. thx. aku mo nunggu jafis. tapi nyantai aja
jafis: haderrr
jafis: boss mohon di tambahin "mata" setelah sepasang
lelouch: tante rose ? wah.. bakalan ada yang ngamuk lagi nih ..
jafis: huahahhaah
lelouch: lanjut besok
Shirley Rosemary: tante rose ???? apa ini jafiiiiss ????? **injek-injek jafis**
Shirley Rosemary: aarghhh lulu... gw gak endut macam kau tulis gitu, bah ! **gebukin lulu**
lelouch: **mengendap-endap dan kabur**
jafis: *awas lulu kepijek kakai gua...*
jafis: terdoble tuh boss...
lelouch: wakakakaka...
lelouch: aku sambi-sambi ya
rozz-aremania: hoy.. kerjo.. c**k !!!
lelouch: hehehe... pssst... can't wait
jafis: wew...bagi hoi...heheheheh
lelouch: ok ok .. i'm out :D
lelouch: **tendang rozz**
jafis: kidding boss...
rozz-aremania: **colek lulu** ceweeeee...kk ... wakakakaka
rozz-aremania: lanjut cak jafis
rozz-aremania: uda jafis ...
jafis: rozz... setelah sang....dikasih Bapak..
rozz-aremania: nah itu urusannya lulu .. **kabur**
rozz-aremania: ayo uda ...
lelouch: dodol.. jauh-jauh ke malang... gak tahunya harus nungguin orang...
rozz-aremania: alah .. situ juga seneng.. bisa maenan cerpen kan ?
lelouch: hush !!!!
jafis: wew cepat bangettt...wkaakkakaka
rozz-aremania: lho.. kirain udah gak di stay tune lagi?
rozz-aremania: kemana aja cak jafis?
jafis: saya sambil kerja uda... ada atasan dr malaysia neh..heheh
rozz-aremania: yak ! bagus .. jangan kayak lulu .. tugas keluar kota malah nongkrong di cerpenista..
jafis: wakakakakak
lelouch: jleb! **serasa ditusuk dengan pedang**
rozz-aremania: **plencing**
lelouch: **ambil AK-47, kejer2 rozz**
jafis: pulang dulu yahh....
rozz-aremania: weeey... koq udahan?
lelouch: ok ok bos
lelouch: /tamat
rozz-aremania: tamat
lelouch: Credits : Ide Cerita : jafis & lelouch
lelouch: Story Script : lelouch
lelouch: Story Editing : jafis
lelouch: Penyelaras akhir : rozz