Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

KISAH INSPIRATIF : "Surgamu Surgaku Juga"


RIE masih belum beranjak dari tempatnya. Tangannya asyik menari menjelujur di atas sehelai mukena setengah jadi. Jarum jam dinding menunjuk angka 01.35. Hening, hanya suara jam dinding yang menyanyi ditingkah helaan kantuknya.

Akhirnya selesai juga. Rie memandang mukena bersulam buatannya. Sekali lagi, ditelitinya jangan ada yang kurang rapi. Ah, sempurna. Semua ini dilakukannya untuk mencari surga.

“Sudah, Dik. Tak perlu repot membuat sesuatu untuk Ibu. Toh, beliau tak akan mau menerimanya.”

Kalimat itu masih terngiang di telinga Rie. Ucapan Mas Hadi, suaminya, setiap melihat Rie repot membuat sesuatu untuk ibu mertuanya.

“Tak apa, Mas. Aku akan tetap membuatnya sampai Ibu luluh dan menghilangkan kebenciannya,” gumamnya lirih.

Rie melipat mukena untuk Ibu dan membungkusnya dengan rapi. Terbayang kenangan dulu saat mereka menikah. Ibu memujinya, “cantik, halus, pinter masak, kamu pinter nyari istri, Di,” begitu ucapnya pada Mas Hadi.

Ibu terlihat menyayanginya, membuatnya merasa sangat beruntung. Namun semua berubah saat Mas Hadi harus bertugas di Belanda. Rie dan si kecil harus pindah ke rumah Ibu di desa. Yang membuat Rie terkejut, ternyata mertuanya pengikut aliran kebatinan dan jauh dari syari’at. Berkali-kali Rie mencoba mengingatkan, berkali-kali pula amarah yang didapatkan.

“Dasar menantu tak tahu diuntung, membantah saja. Membuat api ndak bisa, motong kayu ndak bisa, nyuci ndak bersih, ‘kelemak-kelemek’ kerjaan ndak ada yang becus. Anak kecil disuruh sembahyang, puasa, ngaji, ndak boleh main sama embahnya ….”

Rie hanya bisa menitikkan air mata menerima perlakuan Ibu. Kemarahan Ibu semakin menjadi saat Rie membersihkan kamar dan membuang bunga-bunga yang ternyata sesajen Ibu. Hingga akhirnya Mas Hadi menyuruhnya pulang ke rumah mereka di kota, untuk mendinginkan hati Ibu.

Walau hanya berdua dengan si kecil, Rie lebih tenang. Namun, wasiat mendiang ibunya selalu terngiang, “Nduk, surga perempuan itu ada di ridho suaminya. Dan ridho laki-laki itu ada di ridho ibunya. Karenanya, hormati dan cintai mertuamu, carilah ridhonya agar surga bisa kalian dapatkan.”

Itulah sebabnya, Rie selalu berusaha memberikan hadiah untuk mertuanya. 4 tahun berlalu, tugas Mas Hadi usai dan kembali ke tanah air. Mereka pun bersama kembali.
Ini ramadhan tahun ke-4 sejak kepulangan Mas Hadi. Rie masih berusaha mengejar ridho mertuanya. Dia tak patah arang walau Ibu masih bergeming angkuh. Beri hidayah-Mu untuk Ibu, ya Allah, begitu bisik hatinya selalu.

“Belum tidur, Dik? Sudah lewat tengah malam nih, ” tegur Mas Hadi sambil menguap.

“Tanggung, Mas. Sebentar lagi masuk waktu sahur. Tak nyiapkan sahur dulu. Sahur sekalian, yuk!”

“Besok jadi ke rumah Ibu kan? Sudah lama ndak lebaran di sana,” kata Rie lagi.

“Sudahlah, Dik. Mas tak ingin dengar Ibu memarahimu lagi. Kau sudah terlalu banyak mengalah, harusnya Ibu mengerti,” gerutu suaminya.

“Tidak, Mas. Surgamu ada pada ridhonya. Dan aku sangat berharap ridhomu mengantarku ke surga. Surgamu surgaku juga, bagaimana aku memimpikan surga sedang engkau sendiri tak mendapatkannya?”

Mas Hadi tergugu, Rie benar. Dihampirinya sang istri, dikecupnya keningnya penuh haru, “terima kasih, Sayang. Kau telah mengingatkanku. Semoga di ramadhan ini, Ibu mendapat hidayah.”

“Aamiin,” jawab Rie. Satu beban lagi lepas dari hatinya.

***

Semoga bermanfaat...




Sumber : Islampos.com