Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

2 Desa di Boyolali ini terkenal gara-gara julukan Desa Gigolo



Merdeka.com - Dua desa di lereng Gunung Merbabu dan Merapi di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, mendapatkan julukan sebagai 'Desa Gigolo'. Beberapa pemberitaan di media online maupun elektronik tahun lalu menyebut Desa Bakulan dan Desa Cabean, banyak dihuni anak muda yang usianya kurang dari 20 tahun, berprofesi sebagai pelaku seks komersial pria alias gigolo.

Penasaran dengan cerita dan pemberitaan tersebut, merdeka.com melakukan penelusuran menuju daerah yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari hutan. Sayangnya, tak satupun warga di kedua desa yang mengetahui kabar mencengangkan itu.

"Gigolo niku nopo to mas (Gigolo itu apa mas)? Kulo kok mboten nate mireng (saya kok belum pernah dengar)?" tanya Sumardi, warga Desa Bakulan yang sedang membangun rumahnya, Selasa (13/10).

Setelah kami jelaskan, tentang arti kata tersebut, mereka pun menjawab. "Wah mboten enten mas, mriki mboten enten pemuda sing nakal kok, (wah tidak ada mas, di sini tidak ada pemuda yang nakal)," katanya.

Kian penasaran, kami mencoba menanyakan kepada warga lainnya, termasuk ke kepolisian sektor setempat. Dari keterangan mereka, memang ada beberapa pemuda yang bekerja seperti dimaksud. Namun itu terjadi beberapa tahun lalu, atau tepatnya tahun 2010 hingga 2012.

"Memang dulu ada mas, anak-anak muda di sini yang putus sekolah, terus gak mau kerja yang berat. Tiap hari ke kafe di Bandungan, Semarang sana. Dandannya perlente, pulang-pulang bawa uang, pamer. Iki lho golek duit gampang, tinggal neng kafe, dolan karo tante-tante, pulang bawa uang banyak," ujar Bandi (nama samaran) menirukan salah satu pemuda dimaksud.

Bandi menyebutkan ada beberapa nama yang dulu memang berprofesi seperti itu. Namun sejak tahun 2012, kondisi tersebut berubah drastis. Para pemuda di desanya tak ada lagi yang bertingkah aneh. Para pemuda pun sekarang mempunyai pekerjaan yang tetap, sehingga tidak melakukan hal-hal yang di luar atau melanggar koridor agama.

"Dulu itu mungkin cari kerjaan susah mas. Sehingga banyak yang aneh-aneh. Tapi sekarang banyak pabrik, banyak proyek di luar, jadi masyarakat sini khususnya pemuda, semua berkarya," jelasnya.

Kanit Sabhara Polsek cepogo Boyolali, Aiptu Budi Sri Widodo tak menampik kabar adanya desa gigolo tersebut. Dia membenarkan, jika dulu ada beberapa pemuda pengangguran di kedua desa yang berprofesi seperti itu.

"Dulu mas, tahun 2010 atau 2012, ada tapi enggak banyak," urai Budi sambil menyebutkan beberapa nama pemuda dimaksud. "Tapi bukan di sini, mereka memang suka nongkrong di kafe, di Bandungan sana. Enggak ada yang dilakukan di sini," jelasnya.

Budi mengaku beberapa pemuda tersebut sudah terlanjur memiliki gaya hidup yang mewah. Sehingga saat tak mempunyai uang, mereka rela menjual diri untuk mendapatkan uang tersebut.

"Sementara ini belum ada komunitas gigolo di sini. Mereka kalau masih ada, juga jalan sendiri-sendiri. Tapi kami akan mendatanya lagi," terangnya.