Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Bolehkah Terlalu Sering Curhat tentang Suami kepada Sahabat Kita?



‘Sahabat’, satu kata yang tak pernah terlepas dari kaum hawa. Sahabat  identik dengan seseorang yang selalu ada disamping kita, baik suka maupun duka. Bagi seorang hawa, sahabat adalah tempat mencurahkan segala beban peliknya kisah kita.
Allah menghendaki agar pasangan suami istri layaknya sepasang pakaian yang saling melengkapi, bukan saling merusak.
Dalam Al-Qur’an disebutkan yang artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al-Baqoroh [2]:187)
Dalam ayat tersebut Allah swt. menyebut bahwa suami adalah libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.
Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh.  Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup  “aurat”  bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan.
Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya. Kita sebagai muslimah tidak akan dikatakan bosa menjadi perhiasan suami ketika di luar sana kita masih mengumbar aibnya.
Istri adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Suami juga sumber ketentraman bagi istrinya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.“(QS.Ar-Ruum [30]:21)
Ketika segala sesuatu keadaan rumah tangga kita curhatkan pada sahabat, sudahkah kita dapat dikatakan menentramkan hati suami? Bukankah justru kita mengumbar aurat suami? Suami juga sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)
Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari.
Tak ada akhlaq suami di dunia ini yang seindah akhlaq Muhammad. Karena itulah, Siti Aisyah pernah mengatakan,  akhlaq Muhammad itu sebagai “khuluquhu al-Qur’an” (al-Qur’an yang sedang berjalan). Maka alangkah bijaknya apa yang menjadi kekurangan suami, cukuplah kita saja yang mengetahui, sehingga kita bisa dikatakan sebagai libas(pakaian/penutup) bagi suami.
Namun, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam juga mengingatkan para suami, “Berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.”Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Khusus untuk para istri, jika dapat menghayati dan memahami takdir Allah SWT untuknya, maka dia akan merasa sabar dan kapang dada dalam menjalani kesulitan hidup, juga tidak akan terlalu mengandalkan manusia lain (sahabat) dalam berbagi kisah. Mengandalkan manusia tak akan abadi, seberapa kita membutuhkannya sebagai sahabat, dia adalah manusia lemah juga yang kadang memiliki rasa iri pada kita, atau sebagai manusia biasa yang kadang juga bisa tertawa ketika kita tertimpa kesusahan atau masalah kendati ekspresinya ketika kita curhati menandakan empati yang dalam. Itulah manusia, Wallahu a’alm bis Showwab, bukan berarti kita su’udzon terhadap sahabat, tetapi alangkah bijaknya kita sebagai muslimah berilmu bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan. Saatnya kita bercurhat, berserah diri, berkeluh hanya lewat doa yang kita panjat semata pada Illahi. Jika memang kita sebagai mahluk sosial perlu bercengkerama dengan para sahabat kita, perlulah dimengerti ada batasan aib dari suami yang harus kita jaga rapat.
Fa’insya Allah, kitapun mampu menjadi libas(pakaian/penutup) bagi suami kita, dan kelak surga-Nya juga kita rengkuh. Aamiin (ummi-online)