Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Dilarang Katakan “Jangan” Pada Anak Anda, Baca Ayat Ini!



Salah satu teori pendidikan anak yang muncul belakangan ini adalah melarang orang tua mengucapkan kata “jangan” pada anak.
Sejumlah psikolog seperti Ayoe Sutomo beralasan, penggunaan kata “jangan” membuat anak jadi penasaran mengapa hal tersebut dilarang sehingga ia enggan menurut. Menurut konsultan parenting Ayah Edy, orangtua disarankan tidak menggunakan kata “jangan” karena alam bawah sadar manusia tidak merespon dengan cepat kata larangan tersebut. Sebagian lainnya memberikan alasan bahwa kata “jangan” membawa nuansa negatif.
Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai larangan menggunakan kata “jangan” pada anak? Cukuplah Al Qur’an yang menjawabnya.
Mari kita baca surat Luqman ayat 13.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)
Inilah Al Qur’an dan inilah nasehat salah seorang ayah terbaik kepada anaknya. Rupanya ia memulainya dengan “laa” (jangan).
“Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kisah Luqman dengan sebutan yang baik bahwa Dia telah menganugerahinya hikmah dan Luqman menasehati anaknya yang merupakan buah hatinya, maka wajarlah jika ia memberikan kepada orang yang paling dikasihinya sesuatu yang paling utama dari pengetahuannya,” tutur Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini, “karena itulah hal pertama yang ia pesankan kepada anaknya adalah menyembah kepada Allah semata, jangan mempersekutukannya dengan sesuatu apapun.”
Bagi mereka yang beralasan bahwa kata “jangan” membuat anak penasaran dan enggan menurut, ternyata Luqman yang penuh hikmah menggunakan kata itu dan anaknya pun mengikuti serta menurutinya. Luqman tidak menggantinya dengan kata “hati-hati” tidak pula menggantinya dengan kata lainnya.
Bagi mereka yang beralasan bahwa kata “jangan” tidak direspon alam bawah sadar dengan cepat, nyatanya nasehat Luqman yang penuh hikmah itu diabadikan dalam Al Qur’an. Seruan para Nabi pun sama dengan seruan Luqman dan umatnya berbondong-bondong meninggalkan kemusyrikan.
Bagi mereka yang beralasan bahwa kata “jangan” membawa nuansa negatif dan mengandung tuduhan, bacalah penjelasan Sayyid Qutb saat menafsirkan ayat tersebut dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an: “Sesungguhnya nasehat seperti ini tidak menggurui dan tidak mengandung tuduhan. Karena orangtua tidak menginginkan bagi anaknya kecuali kebaikan dan orangtua hanya menjadi penasehat bagi anaknya. Luqman melarang anaknya dari berbuat syirik dan dia memberikan alasan atas larangan tersebut bahwa kemusyrikan merupakan kezaliman yang paling besar.”
Bagi mereka yang beralasan bahwa kata “jangan” membawa nuansa negatif sebagaimana kata “tidak”, hendaklah ia mengetahui bahwa dalam Al Qur’an, kata “laa” yang berarti “jangan” atau “tidak” terdapat dalam 747 ayat. Banyak bukan? Lalu, alasan apalagi kita melarang menggunakan kata “jangan”? Wallahu a’lam bish shawab. (Webmuslimah)