Banser NU Jepara: Ada ‘Laa Ilaaha Illallah’ di Topi dan Baju Pengawal UAS, Itu Atribut HTI

Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jepara, Jawa Tengah menganggap safari dakwah Ustadz Abdul Somad (UAS) telah ditunggangi HTI. Makanya harus ditolak di Jepara.

Hal ini semakin hangat sesaat setelah tim UAS survei ke lapangan untuk mengecek kondisi kesiapan panitia. Seorang tim tersebut terlihat mengenakan topi berlogo bendera salah satu organisasi terlarang HTI.

“Tanggal 24 Agustus saat tim UAS datang ke Jepara dalam rangka cek lokasi persiapan pelaksanaan acara. Tiba tiba beredar di media tepatnya di FB ustadz mudhofar/alhusna. Foto-foto tim UAS memakai topi menyerupai simbul HTI beredar ke publik. Hal inilah kemudian memicu pro kontra kembali menguat di masyarakat,” kata Syamsul Anwar, Ketua PC GP Ansor Jepara.

Bahaya cara berfikir gebyah uyah alias pukul rata, serampangan

Mari kita analisis sejenak.

Kesimpulan seperti itu (UAS dianggap Ditunggangi HTI, alasan GP Ansor, karena Ada Bendera Laa ilaaha illallah di Topi dan Baju Sebagian Kru Ustad Abdul Somad) di Jawa namanya gebyah uyah alias pukul rata, seperti garam semuanya dianggap pasti asin. Itu jelas cara berfikir serampangan.

Bila mempelajari ilmu tentang aliran-aliran sesat dalam Islam, cara berfikir seperti itu disebut mujmal (pukul rata, serampangan). Ada satu unsur yang dianggap sebagai pertanda, langsung disimpulkan begitu saja. Tidak melihat unsur dan faktor-faktor lainnya secara komplit. Akibatnya, kesimpulannya salah bahkan dapat sesat menyesatkan.

Cara berfikir seperti itu bagai anak TK (taman kanak-kanak) yang melihat kambing makan rumput (ketika menjelang hari raya Idul Adha, si anak TK melihat kambing makan rumput di kandang dekat masjid, misalnya).

Loading...

Lalu semua hewan yang makan rumput disebutnya kambing. Walau teman bapaknya yang datang ke rumah naik kuda, ya disebut naik kambing oleh anak TK ini. Karena dia lihat, kuda itu makan rumput (sebagaimana kambing) ketika kuda itu ditinggal penunggangnya.

Bila cara berfikir serampangan, gebyah uyah, atau pukul rata seperti itu diterapkan mengenai urusan umum, apalagi agama (Islam) dalam hal ini bendera atau tulisan Laa ilaaha illallah, maka akan mengacaukan pemahaman. Karena akan hantam kromo begitu saja, tanpa melihat faktor-faktor secara sempurna, langsung disimpulkan begitu saja. Itu cara-cara orang yang disebut safiih, dungu. Dan itu merupakan salah satu hal yang telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bila dirujukkan kepada Hadits Nabi saw maka gejala buruk ini dikhawatirkan termasuk dalam hadits tentang ruwaibidhah dan lebih celakanya lagi keadaan ini dikhawatirkan termasuk pertanda imarah sufaha’.

Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Baari, juz 13 halaman 84)

Loading...