“Allahu Akbar, Lepas Beban Saya”, Ucapan Pertama Soeharto Setelah Mundur. Semua Diam

Hari itu, 21 Mei 1998, hari yang sungguh tak disangka-sangka. 32 tahun berkuasa, HM Soeharto secara tak terduga memutuskan meletakkan jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Tak ada tanda-tanda sebelumnya, meski tuntutan untuk mundur itu telah digemakan oleh mahasiswa dimana-mana. Namun sepertinya, beberapa hari sebelumnya Pak Harto masih tetap bergeming dan masih percaya diri bisa mengatasi keadaan.

Krisis ekonomi di Asia di penghujung tahun 1997 dan berlanjut diawal tahun 1998, telah menjalar ke dalam negeri melumpuhkan sendi-sendi perekonomian Indonesia. Gejolak kenaikan harga akibat pelemahan rupiah telah menimbulkan ketidakpercayaan kepada pemerintah yang sedang berkuasa.

Pagi itu, tanpa banyak aba-aba, Soeharto mengumpulkan perangkat negara dan awak media di Istana Negara. Para kuli tinta dan kru televisi masih bertanya-tanya, pengumuman apa yang hendak mereka terima ? Simpang siur berita di Istana segera terjawab dengan pidato singkat Soeharto di depan podium.

“Saya menyataken…., berhenti, …sebagai Presiden Republik Indonesia”, itulah sepenggal kalimat dalam pidato singkatnya pagi itu. Kalimat yang menandai berakhirnya sebuah era, sekaligus menandai dimulainya zaman baru dalam sejarah Republik Indonesia.

Tanpa banyak seremoni, setelah mempersilahkan dan menyaksikan pelantikan Wapres BJ Habibie sebagai Presiden yang baru penggantinya, Soeharto segera tinggalkan Istana untuk terakhir kalinya.

Seperti laporan utama mingguan Tempo edisi 10 Februari 2008, yang menggambarkan suasana kedatangan Soeharto kembali ke kediamannya di jalan Cendana pertama kalinya dalam status barunya sebagai warga biasa.

Loading...

“Raungan sirine menghentikan kegiatan belasan orang yang berkumpul sejak siang di ruang keluarga di rumah Jalan Cendana 8, Menteng Jakarta Pusat. Beberapa mobil masuk halaman dan para penghuni rumah seperti diberi aba-aba serentak berdiri”

“Dari Mercedes Benz hitam, keluarlah Pak Harto, orang yang dinantikan. Dengan pakaian safari lengan pendek warna gelap, wajah beliau tersebut muram dan pucat. Dengan berjalan diiringi Siti Hardijanti Rukmana, putri sulungnya dan didampingi mantan Mensesneg Saadilah Mursjid”

Memasuki ruang tamu, Soeharto dengan mengangkat kedua tangannya berkata “Allahu Akbar, lepas sudah beban saya yang terpikul selama berpuluh-puluh tahun”.

Ruangan senyap seketika, tak seorang pun yang mampu berbicara. Hanya samar-samar terdengar isak tangis dari dua putrinya, Siti Hedijati dan Siti Hutami.

Satu-persatu para anak, menantu dan cucu mendatangi Soeharto dan memeluk dan menciuminya. Disusul para kerabat lain dan para ajudan, sopir dan pembantu mendatangi sang penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu, menyalaminya untuk menguatkannya.

Soeharto tampak tenang dan dapat menguasai emosinya.

“Ini adalah kenyataan sejarah, saya buat keputusan mundur agar tak jatuh korban lagi. Jika saya tetap bersikukuh untuk bertahan, situasinya sudah sedemikian keruh dan mungkin akan jatuh korban lagi.

Bagaimanapun, saya dahulunya naik karena perjuangan mahasiswa juga. Saat ini sudah jatuh korban mahasiswa, cukup, saya tak mau ada korban lainnya lagi”, dengan tenang Soeharto menyampaikan alasan keputusan “maha penting” yang dibuatnya pagi itu.

Sumber Referensi :

Majalah Mingguan Tempo edisi 10 Februari 2018

Buku Catatan Julius Pour, “Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan dan Petualang”

Loading...