Cara Sarono Pemecah Batu Nafkahi 75 Anak Yatim: Lewat Rida Allah

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-Nya,” – QS Ath-Thalaq: 3

Itulah salah satu potongan ayat yang menggambarkan kehidupan Sarono. Lelaki berumur 60 tahun yang hidup dengan berbagai keterbatasan, tapi masih sanggup menghidupi 75 anak yatim.

Sarono dan istrinya, Sri Ningsih, tidak memiliki anak kandung. Tapi mereka memperlakukan 75 anak yatim selayaknya darah daging mereka sendiri.

Penglihatan Sarono menurun sejak tahun 1994 dan kini sering sakit-sakitan. Tapi dia terus mencari nafkah dengan menjadi tukang batu di sekitar tempat tinggalnya, kawasan Cipinang Jaya, Jakarta Timur. Batu-batu yang dikumpulkan dipecah kecil-kecil untuk membuat adukan pasir dan campuran semen.

Istri Sarono, Sri Ningsih, menyebut suaminya adalah sosok yang gigih. Meski mengalami keterbatasan fisik dan penghasilan, Sarono tak patah arang.

“(Penghasilan) Tidak menentu, kadang sekarung Rp 5.000 atau Rp 10.000. Kadang dua karung dibayar Rp 30.000,” ujar Ningsih.

Loading...

Meski penghasilannya terbatas, Sarono dan Sri Ningsih mengaku tak kesulitan mengasuh anak-anak yatim. Keduanya sudah mengurus anak yatim dan menjadikan rumah mereka sebagai ‘panti asuhan’ sejak tahun 2005.

Selain penghasilan sebagai tukang batu, Sarono juga kerap mendapat bantuan dari para donatur. Dia menyediakan rekening khusus untuk anak yatim.

Uang itu selalu dia gunakan untuk biaya sehari-hari anak-anak yatim. Terlebih mayoritas anak-anak yatim yang diasuhnya masih berstatus pelajar dan butuh biaya pendidikan.

“Para donatur memberikan donasi setiap bulannya dengan ikhlas,” ujar Ningsih.

Sri Ningsih tak merinci berapa banyak uang yang biasa dia keluarkan dalam sebulan. Tak ada pembukuan khusus dalam mengasuh anak-anak yatim. Yang pasti jika dia dan Sarono memiliki uang berlebih, anak-anak asuhan mereka juga ikut merasakannya.

“Kita tidak menghitung habis berapa dalam sebulan. Tidak diperinci, kita kasih saja semampu kita,” katanya.

Sri Ningsih berujar meski hidup pas-pasan, dia akur dengan Sarono. “Dukanya tidak ada, Pak Sarono sayang istri, hidup saya akur sama dia.” Ujar Ningsih yang pernah berprofesi sebagai pembantu dan mengajar ngaji.

Loading...