Jamaah Indonesia Diminta Hindari Usap-Usap Benda di Sekitaran Ka’bah, Apalagi Mencium Kiswah

Dua Tanah Suci baik di Makkah maupun Madinah kerap dijadikan manusia sebagai tempat mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus tempat berdoa yang mustajab.

Namun terkadang banyak yang kebablasan, menjadikan tempat tempat suci untuk meminta berkah, seperti mengusap-usap pintu masjid, memegang dan mencium mimbar khutbah. Jelas ini sangatlah dilarang oleh Islam karena justru bisa menimbulkan sifat syirik dan murofat.

Umar Ibnu Khatab pernah berkata saat di depan hajar aswad, “Engkau adalah batu, yang tak akan memberikan madarat maupun manfaaat, seandainya rasulullah tak mencium, aku tak akan menciummu,”

“Artinya ini memberikan perhatian kepada jamaah haji, luruskan niat kita apa pun yang kita lakukan di tempat-tempat mustajabah itu kita langsung berhadapan dengan Allah SWT,” terang Konsultan Pembimbing Ibadah Haji Akhmad Kartono, Senin (6/8/2018).

Kartono juga menegaskan, ketika berada di sekitaran Kakbah, jamaah tidak perlu pegang-pegang kain kiswah sampai ke atas tangannya, apalagi harus menciumnya. “Saya rasa tidak perlu dilakukan, jamaah kita tidak perlu ikut-ikutan jamaah lain (asing),” tegas Kartono.

Loading...

Sebaiknya, sambung Kartono, manfaatkanlah tempat-tempat mustajab itu untuk mendekatkan diri pada Allah, memohon ampunan, berdoa dan berzikir.

Kartono juga mengingatkan agar jamaah Indonesia ketika berada di makam Rasul dan Raudhah tidak mencari berkah dengan mengusap-usap dinding, tiang, bahkan ada yang melempar kopiah lalu ditangkap lagi seperti yang dilakukan jamaah asing. “Kalau mau minta berkah langsung sama Allah SWT,” jelas Kartono.

Termasuk ketika berada di Arafah, saat naik ke bukit Jabal Rahmah, tidak perlu melakukan salat, mengusap-usap tiang, karena tidak ada dasar hukum Islamnya.

“Itu semua tidak ada dalilnya. Dasar hukumnya apa itu. Sehingga harus dihindari,” tegasnya.

Dia mengimbau melalui ketua regu, ketua rombongan, atau petugas rombongan, untuk selalu mengingatkan ke jamaahnya agar menghindari pemahaman semacam itu, karena tidak ada landasan atau dalilnya.

Loading...