Berharap Pada Manusia, Bersiaplah Kecewa

Berharap pada manusia, maka bersiaplah kecewa, mengapa? karena manusia pada intinya susah untuk berterima kasih. Sebaliknya berharap kepada Allah mustahil kecewa.

Dikala kita berbuat kepada seseorang terbersit harapan agar orang yang sudah mendapat kebaikan dari kita itu berbuat sebaliknya kepada kita, nyatanya tidaklah demikian, banyak yang tidak sesuai harapan atau sebaliknya penerimaan yang didapat.

Bagaimana contohnya:

  • Seorang pegawai bekerja dengan sangat rajinnya berharap pimpinan itu melihatnya dan memberikan apresiasi sesuai yang diharapkan. Nyatanya tidaklah demikian, ternyata pimpinannya hanya melihat itu sudah kewajibannya sebagai pegawai tidak ada sepatah katapun terima kasih sebagai wujud apresiasi baginya.
  • Seorang pria sangat mengidamkan berjodoh dengan diidamkannya, segera dia berharap kepada seorang ustadz sebagai comblang untuk mencarikan calon istri sesuai kriterianya yang sudah tentu cantik dan sholehah. Eh malangnya calon istri sudah ketemu, sang ustadz sendiri yang malah tergerak terlebih dahulu untuk memperistrinya.
  • seorang istri yang dengan rajin melakukan semua tugas rumah tangga yang tiada habisnya berharap sekali dengan yang dilakukannya itu berbuah suami akan menyayanginya. Lalu apa yang didapat sang suami tidak mengapresiasi dan hanya melihat itu sudah tugasnya sebagai  istri.

Dari contoh di atas sudah tentu semua berbuah kekecewaan bagi mereka. Dengan demikian sangat disayangkan bila seorang hanya berharap kepada makhluk dan ini di mata Allah tidak ada nilainya kecuali lelah semata. Bila dari awal diniatkan untuk mendapatkan ridho Allah memenuhi perintah Allah dalam bekerja atau mengusahakan sesuatu disaat tidak sesuai harapan tentulah tidak akan kecewa, dirinya akan sabar bahwa Allah lebih tahu balasan terbaik buat kita dalam berbuat.

Loading...

Perkara seorang mendapat balasan dari perbuatannya itu, maka biarkan itu menjadi bagian Allah sebagai sang pemilik Hati. Allah dengan leluasa membolak balik hati setiap makhluknya untuk dapat memberikan penghargaan kepada apa yang kita perbuat atau sebaliknya. Siapa yang berharap kepada Allah mustahil kecewa, karena Allah itu maha tahu atas apa yang menjadi balasan terbaik buat apa saja  yang sudah kita perbuat.

Tipis sekali bukan perkara ini. Jadi yang perlu dilakukan kita hanyalah terus berbuat baik bekerja tanpa pamrih dan berharap hanya kepada Allah.  Walau hal ini sepele, tetapi sebetulnya itulah inti dari aqidah kita, berharap kepada makhluk apalagi manusia memang tidak diperbolehkan, kala berbuat baik singkirkan keinginan agar dari perbuatan baik itu orang akan membalas kebaikan serupa, inilah yang dinamakan ikhlash.

Perbuatan ikhlas itu tidak harus ditunjukkan apalagi di gembor-gemborkan, karena perbuatan ikhlas itu  akan memiliki pancaran tersendiri.  Begitupun dengan akibat baiknya. Perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas otomatis mempunyai nilai balasan yang bahkan lebih baik dari Tuhan, tanpa usah kita berharap diganti oleh manusia dengan perlakuan serupa.

Ada cara untuk mengecek apakah perbuatan baik kita ikhlash atau tidak maka gunakan dengan rumus dibawah ini.

Di kala seorang berbuat baik seharusnya Allah memberikan balasannya berupa kebaikan pula seperti adanya limpahan  rezeki, keberkahan, kelapangan bahkan keberuntungan kepada yang berbuat baik.

Firman Allah dalam  surat Ar Rahman ayat 60

 Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

Jikalau sebaliknya yang didapat maka secara sportif harus diakui bahwa ada yang tidak ikhlash didalam perbuatan baik kita.

Berani tidak kita mengatakan itu, ego kita tentu akan mengatakan tidak namun disitulah kunci agar kita terus dapat berlatih dan berintrospeksi dalam melakukan kebaikan agar itu bernilai ibadah.

Wallahu a’lam

Loading...